Teror di Jalan Raya

Kejadian ini berlangsung seminggu yang lalu, ketika Saya melewati Jl. Magelang, tepatnya di depan Makam Wahidin Sudirohusodo. Seorang pemuda pengendara sepeda motor berusaha menyalip dari sisi kiri seorang bapak pengendara sepeda ontel. Merasa ruang jalan yang tersedia di sebelah kiri pengendara sepeda ontel terlalu sempit, pengendara sepeda motor tiba-tiba membelokkan stir ke kanan. Malangnya, kondisi jalan saat itu licin setelah diguyur hujan dan kecepatan motor yang dikendarai pemuda tersebut cukup kencang. Tak pelak lagi, pengendara sepeda motor menyenggol ban belakang sepeda ontel sehingga pengendaranya jatuh terjerembab. Pemuda pengendara sepeda motor itu sendiri kemudian tidak mampu mengendalikan kendaraannya, sehingga terpelanting ke kiri lalu masuk ke dalam selokan yang cukup dalam.

Di akhir Bulan Syawal yang lalu, Saya melewati jalan yang cukup sepi di utara Kampus Universitas Islam Indonesia. Hujan turun rintik-rintik dan setiap orang terlihat seperti kesetanan memacu kendaraan secepatnya untuk menghindari basahnya air hujan. Dari arah belakang Saya, terdengar suara sepeda motor meraung keras. Dari kaca spion terlihat pemuda pengendara sepeda motor yang berboncengan, berjalan zig zag. Tidak lama kemudian terasa benturan keras di bagian belakang sepeda motor Saya. Saya pun kemudian tidak mampu mempertahankan keseimbangan dan akhirnya jatuh di aspal yang kasar dan keras. Darah mengucur dari kaki Saya, sehingga memaksa tertatih-tatih kesakitan untuk kembali berdiri. Ketika akhirnya mampu berdiri, Saya baru sadar bahwa pengendara sepeda motor yang menabrak saya telah menghilang, meninggalkan aroma dan botol minuman keras yang pecah berserakan di jalan.

Seperti inikah gambaran etika pengendara sepeda motor di negeri ini? Sudah hilangkah sopan santun berlalu lintas?

Sepertinya memang terbukti nyata angka yang menyebutkan bahwa 90 persen kecelakaan disebabkan perilaku pengemudi. Memang benar, bila ada yang mengatakan bahwa kasus kecelakaan lalu lintas tak semata-mata disebabkan kelalaian pengguna jalan. Infrastruktur jalan yang sulit, seperti jalan yang berkelok-kelok, jalan yang terlalu lebar bagi pengguna kendaraan roda dua atau jarangnya “U Turn”, juga menjadi faktor penyumbang penyebab terjadinya kecelakaan. Akan tetapi, perilaku mengemudi masyarakat yang tidak tertib, tidak adanya sopan santun berkendara dan rendahnya kesabaran pengguna jalan adalah penyumbang utama penyebab kecelakaan lalu lintas. Saat ini Kita tidak cukup berhati-hari untuk diri sendiri, tapi juga perlu berhati-hati dengan kelakuan pengendara lain.

Setiap hari, kecelakaan lalu lintas membunuh lebih dari 3.000 orang, termasuk 500 anak-anak. Setiap tahun, 1,3 juta orang terbunuh dan sedikitnya 50 juta orang terluka. Krisis ini diperkirakan akan terus berlanjut dan meningkat seiring dengan peningkatan kendaraan bermotor, terutama di negara-negara berkembang. Di negara berkembang, jumlah orang yang tewas di jalan diprediksi meningkat setidaknya 80% dalam 20 tahun yang akan datang.

Dalam tiga tahun terakhir, peristiwa kecelakaan lalu lintas di DI Yogyakarta meningkat tajam. Jumlah korban kecelakaan pun setiap tahun kian bertambah. Antara 2005-April 2008, sedikitnya 767 jiwa melayang, sementara 7.830 orang lainnya menderita luka berat dan ringan akibat kecelakaan lalu lintas di berbagai ruas jalan di DIY. Kerugian material akibat kecelakaan dalam periode tersebut juga cukup besar jumlahnya, mencapai sedikitnya Rp 5 miliar.

Bayangkan bila Saya hidup 20 tahun lagi. Ketika itu anak-anak Saya adalah pemuda yang menjadi harapan terbesar Saya. Pemuda merupakan kelompok yang paling rentan mengalami risiko kematian, luka parah dan cacat seumur hidup akibat kecelakaan. Bayangkan pula bila sama sekali tidak ada kecelakaan tahun lalu, maka Kita memiliki uang setidaknya 5 miliar yang dapat dipakai untuk memperbaiki gedung-gedung sekolah yang sudah tidak layak, membantu biaya pendidikan siswa yang tidak mampu, menambah koleksi buku bacaan di perpustakaan-perpustakaan, apalagi? Cukup banyak uang 5 miliar untuk dimanfaatkan, kecuali bagi koruptor…

Saatnya Kita berbenah, saatnya Kita berubah. Tidak perlu menjadi seorang profesor untuk memahami apa yang sepatutnya diperlukan untuk mengurangi jumlah kecelakaan di jalan raya. Setidaknya (1) perhatikan keadaan kendaraan – rem, lampu depan, lampu rem, lampu sinyal belok; (2) kondisi jalan lebih aman untuk semua pengendara – ada pemisah antara jalur cepat dan jalur lambat, jalan tidak berlubang; (3) perilaku pengendara – hindari kecepatan yang berlebihan, tidak mengkonsumsi minuman keras sebelum berkendara, patuhi rambu lalu lintas; (4) gunakan helm atau sabuk pengaman.

Tidak kalah penting bahwa pemerintah pun harus segera turun tangan. Beberapa saat lagi Kita akan segera melaksanakan pemilu. Kualitas pemerintah yang akan datang akan sangat ditentukan oleh kualitas pemilu ini. Kita sudah terbiasa mendengar partai politik mengkampanyekan akan mengusahakan sembako murah atau meningkatkan anggaran pendidikan dan kesehatan. Akan tetapi bagaimana kebijakan mereka untuk mengurangi kecelakaan di jalan raya, rasanya belum pernah terdengar. Padahal bila tak ada kecelakaan di jalan raya, maka Kita tentunya tidak pelu memikul kerugian yang sedemikian besar. Dengan demikian, akan ada lebih banyak uang agar sembako lebih murah atau anggaran pendidikan dan kesehatan yang lebih tinggi. Dan tentunya tidak perlu ada lagi orang yang tewas atau terluka akibat kecelakaan di jalan raya….

23. February 2009 by Aditya L. Ramadona
Categories: Refleksi | Tags: |

Comments (3)

  1. >sabar aja.. tukeran link yokk mas, linkmu dah sy pasang!

  2. >lagi browsing blognya orang bangka. dan nemu deh blog ini. betah ok di jogja ? ku barulah minggat dari jogja karena dituntut kerjaan

  3. >sorri..Dalam tiga tahun terakhir, peristiwa kecelakaan lalu lintas di DI Yogyakarta meningkat tajam. Jumlah korban kecelakaan pun setiap tahun kian bertambah. Antara 2005-April 2008, sedikitnya 767 jiwa melayang, sementara 7.830 orang lainnya menderita luka berat dan ringan akibat kecelakaan lalu lintas di berbagai ruas jalan di DIY. Kerugian material akibat kecelakaan dalam periode tersebut juga cukup besar jumlahnya, mencapai sedikitnya Rp 5 miliar. yang ini sumber datanya dari mana ya..?

Leave a Reply

Required fields are marked *