Pembangunan Berkelanjutan dan Kesehatan

Pembangunan berkelanjutan memperhatikan keseimbangan lingkungan, sosial dan tujuan ekonomi untuk memaksimalkan kesejahteraan yang berhubungan dengan masyarakat, baik untuk masa sekarang maupun yang akan datang. Agenda 21, selain memperkenalkan tentang pentingnya perlindungan dan promosi kesehatan manusia, juga menyoroti lima area kunci aksi, yakni (1) memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan utama, khususnya di daerah rural, (2) pengendalian penyakit menular, (3) perlindungan kelompok rentan, (4) memenuhi tantangan kesehatan daerah urban, dan (5) pengurangan resiko kesehatan dari polusi dan bahaya lingkungan (von Schirnding 2002).

Kesehatan manusia dan pembangunan berkelanjutan adalah hubungan yang tidak mungkin terpisahkan.

“Manusia menjadi pusat perhatian dari pembangunan berkelanjutan. Mereka hidup secara sehat dan produktif, selaras dengan alam,” (Prinsip 1 Deklarasi Rio UNCED 1992, dalam Mitchell, Setiawan & Rahmi 2003).

Pembangunan yang berkelanjutan tidak bisa dicapai bila terdapat suatu prevalensi yang tinggi dari kelemahan akibat penyakit dan kemiskinan. Kesehatan penduduk tidak dapat dipelihara tanpa lingkungan yang sehat dan sistem pendukung kehidupan yang lengkap (von Schirnding 2002). Sebuah model hubungan antara aspek lingkungan, ekonomi dan nilai sosial, dengan kesehatan dan keberlanjutan, ditunjukkan dalam Gambar berikut.

Model Konseptual Pembangunan Berkelanjutan (Sumber: Price 1997)

Pada tahun 1993, Majelis Kesehatan Dunia menempatkan hubungan antara kesehatan dan lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Majelis menyetujui bahwa lingkup kesehatan lingkungan seharusnya diperluas melewati dampak fisik langsung dari lingkungan mengenai kesehatan, menuju cakupan konsekuensi kesehatan dari interaksi antara populasi manusia dan suatu jangkauan luas dari faktor dalam lingkungan fisik dan sosialnya. Kondisi lingkungan penting, baik secara langsung atau tidak langsung, dalam menentukan kesehatan manusia. Penurunan kondisi lingkungan dipertimbangkan menjadi faktor penyumbang utama terhadap rendahnya kesehatan dan rendahnya kualitas hidup, sehingga menghalangi pembangunan berkelanjutan (NPHP, tanpa tahun).

Gaya hidup manusia, pola konsumsi, pembangunan dan pertumbuhan terus-menerus permukiman dapat menuju bahaya dan penyakit baru. Oleh karena itu, Komisi Kesehatan dan Lingkungan WHO menetapkan secara ekplisit bahwa tidak ada pembangunan yang bisa dinamakan berkelanjutan bila menimbulkan kerusakan pada kesehatan manusia (WHO 1992b; Martens, Sloof & Jackson 1997, dalam NPHP tanpa tahun). McMichael (2001), dalam NPHP (tanpa tahun) menuliskan bahwa kota-kota mempengaruhi pola penyakit infeksi di negara berkembang, khususnya penyakit menular seksual dan penyakit yang berasosiasi dengan kemiskinan seperti tuberculosis dan kolera.

Daftar Pustaka

  1. NPHP (National Public Health Partnerships). Tanpa tahun. Thinking Sustainable Development: Acting for health [internet], diperoleh dari [diakses 11 Desember 2007]
  2. Price, C. (Ed.). 1997. Sustainable Development and Health: Concepts, principles and framework for action for European Cities and Towns. European Sustainable Development and Health Series, No 1. Copenhagen: WHO Regional Office for Europe
  3. von Schirnding, Y. 2002. Health and Sustainable Development: Can we rise to the challenge? [internet], diperoleh dari [diakses 6 Desember 2007]

22. August 2008 by Aditya L. Ramadona
Categories: Refleksi | Tags: , |

Leave a Reply

Required fields are marked *