Respons pada Bencana Alam dan Pengelolaan Bencana

Bencana: Bagaimana kita memandangnya?

Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa bencana merupakan akibat aktivitas alam semata. Bagi mereka, yang dinamakan bencana ialah kejadian-kejadian seperti banjir, kekeringan, gempa bumi, tsunami, dan angin puting beliung. Jarang ditemui masyarakat yang menganggap kejadian-kejadian seperti kebakaran hutan, pabrik gas meledak, sebagai bencana. Mereka lebih beranggapan bahwa kejadian ini merupakan suatu bentuk kecelakaan.

Bila Kita kaji sedikit lebih dalam dari kejadian-kejadian yang ‘tidak menyenangkan’ tersebut, secara mudah dapat dibagi dalam kejadian yang berawal dari aktivitas alam dan kejadian akibat dari aktivitas manusia. Namun bila dilihat lebih dalam lagi, maka nampak bahwa tidak mungkin bencana terjadi tanpa aktivitas alam, begitu pula tanpa adanya aktivitas manusia. Morren (1983, p.284) menyatakan “the traditional distinction between ‘natural’ and ‘man-made’ disaster largely disappears. Hal ini ditekankan kembali oleh Frerks (2007, p.7) bahwa “disasters are complex and multi-causal.”

Bencana: Dari mana datangnya?

Bencana merupakan hasil perkawinan dari bahaya dan risiko (Frerks 2007). Risiko penyebab bencana dapat berasal dari “natural and societal reason (Frerks 2007, p.1).” Sayangnya, seringkali studi tentang penyebab bencana terlalu menekankan pada sistem bumi-atmosfer sehingga kurang memperhatikan penyebab yang berasal dari aspek sosio-kultural (Morren 1983, p.287), seperti yang ditekankan oleh Frerks (2007, p.7) bahwa “disaster is the historical consequence of political, economic and social processes.”

Pembangunan yang salah merupakan penyebab terjadinya bencana. Menurut Frerks (2007, p.2) “certain forms of development have rendered communities and populations more vulnerable to disaster.” Demikian pula Morren (1983, p.287) mengatakan terdapat hubungan langsung antara pembangunan (termasuk perubahan sosial dan modernisasi) dengan kerentanan bahaya. Alasan Morren ialah “development tends to foster dependency and specialisation on the part of individual and communities, reducing their ability to respond affectively, or narrowing the range of normal environmental variability with which they are able to cope on their own (Morren 1983, p.289).”

Menghadapi Bencana: Siapa dan bagaimana?

Ketika bencana terjadi dan masyarakat menjadi lumpuh, maka tidak terelakkan ketergantungan terhadap pihak luar. Akan tetapi bantuan dari pihak luar ini tidak selamanya bernilai positif. “One very common effect of external relief is to pre-empt individul effort and local initiative; to prevent people from salvaging personal property or conserving other assets, to compete with local sources of food supplies and materials and so on (Morren p.287).” Oleh karena itu, masyarakat lokal-lah yang semestinya menangani bencana.

Selama ini ketika menghadapi bencana kita cenderung menganggapnya sebagai “process of adaptation and survival.” Oleh karena itu, yang terjadi kemudian ialah strategi yang digunakan cenderung bertujuan untuk mengurangi kerugian ketimbang pencegahan (Morren 1983, p.290). Padahal, yang sebenarnya dibutuhkan ialah “a proactive, long-term and developmentalist perspective has to be incorporated in disaster-related work, instead of the mainly reactive stance that we have witnessed in disaster-related practice for so long (Frerks 2007, p.2).”

Pembangunan semestinya menjadi cara untuk menghadapi bencana. “Appropriate structural development efforts could help reduce disaster vulnerability in a sustainable manner (Frerks 2007, p.2). Akan tetapi pada umumnya, solusi yang diberikan dalam menangani bencana ialah dengan menggunakan teknologi (Morren 1983, p.286). Padahal menurut Frerks (2007, p.1) “technoratic answer will not suffice and that progress can be made in the societal and governance domain.”

Bacaan

  1. Morren G.E.B., Jr. 1983. A General Approach to the Identification of Hazard and Responses, dalam K. Hewitt (peny.) Interpretations of Calamity from the Viewpoint of Human Ecology. Boston, London and Sydney: Allen and Unwin Inc. Hlm.284-297.
  2. Frerks, G. 2007. Disaster and Development: Social Science Perspective on Disaster Management, Keynote Presentation of Session ‘Environmental and Communal Resilience’. Open Science Meetong 2007: ‘Towards a Sustainable World”. Sanur, Bali, 18-20 November.

29. July 2008 by Aditya L. Ramadona
Categories: Refleksi | Tags: , |

Leave a Reply

Required fields are marked *