Yogyakarta: Kota Bencana?

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2005-2025 menyebutkan permasalahan geomorfologi dan lingkungan hidup yang dialami Kota Yogyakarta berasal dari dua faktor, yaitu faktor manusia dan faktor endowment daerah. Faktor manusia terkait dengan perilaku masyarakat yang tidak memperhatikan aspek kelestarian dan kebersihan lingkungan, misalnya kurangnya disiplin masyarakat dalam membuang sampah dan pendirian bangunan liar yang tidak mentaati peraturan perundang-undangan. Faktor endowment daerah Kota Yogyakarta adalah faktor-faktor yang secara inheren dimiliki Kota Yogyakarta, seperti letak geografis Kota Yogyakarta yang berdekatan dengan Gunungapi Merapi dan Samudera Hindia.

Geomorfologi Kota Yogyakarta pada banyak sisi memberikan keuntungan daerah, namun di sisi lain juga menimbulkan masalah terkait dengan terjadinya bencana alam gempa bumi, baik vulkanik maupun tektonik dengan frekuensi yang cukup tinggi (Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2007). Tabel 1 memperlihatkan paling sedikit tercatat telah terjadi tiga kali gempa bumi merusak sebelum 27 Mei 2006. Gempa bumi 27 Mei 2006 sendiri merupakan gempa merusak yang telah menimbulkan dampak besar bagi Kota Yogyakarta.

Tabel 1. Gempa Bumi Merusak yang Tercatat di Wilayah Yogyakarta Sebelum 27 Mei 2006 (Sumber: Diolah dari Kompas 3 Juni 2006)

Gempa bumi 27 Mei 2006 yang berpusat di koordinat 8º03’ Lintang Selatan dan 110º23’ Bujur Timur dengan kekuatan 5,9 skala Richter telah menghancurkan sebagian wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Menurut Bappenas (2006), wilayah dengan kerusakan dan kerugian terparah terletak di sepanjang Patahan Opak. Patahan ini merupakan garis patahan memanjang sejauh 60 km membentuk Lembah Opak yang berpangkal di Sanden, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY, dan berujung di Tulung, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Gambar 1. Peta Sebaran Kerusakan Akibat Gempa 27 Mei 2006
(Sumber: Bappenas 2006)

Hasil penilaian kerusakan dan kerugian yang dilakukan oleh Bappenas, Bappeda Provinsi DIY dan Bappeda Provinsi Jawa Tengah, serta dibantu oleh tenaga ahli dari lembaga donor internasional, menunjukkan gempa bumi 27 Mei 2006 telah menelan korban jiwa sebanyak 5.760 orang tewas dan kerusakan rumah sebanyak 388.757 unit, termasuk 187.474 unit diantaranya roboh. Perkiraan kerusakan dan kerugian secara keseluruhan yang mencapai 29,1 triliun rupiah, menempatkan dampak bencana ini sebagai salah satu bencana yang paling merugikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir di Indonesia (Bappenas 2006). Kerusakan dan kerugian pada sektor perumahan mencapai 50% dari keseluruhan kerusakan dan kerugian. Keadaan ini mengindikasikan rendahnya kualitas konstruksi bangunan nonpublik di wilayah yang terkena bencana gempa bumi sehingga rentan terhadap guncangan gempa (Bappenas 2007).

Tabel 2. Ikhtisar Kerusakan dan Kerugian (nilai dalam triliun rupiah).
Sumber: Bappenas 2007

Seminar dan Simposium Internasional ”Rekayasa Gempa dan Penanganan Masalah Kerusakan Sarana dan Prasarana,” yang diselenggarakan di Yogyakarta, Senin 28 Agustus 2006, menyimpulkan besarnya korban bencana gempa bumi 27 Mei 2006 antara lain disebabkan besarnya percepatan tanah karena kondisi geologi endapan vulkanik yang belum padat, banyak rumah dibangun tidak tahan gempa, serta ketidaktahuan dan ketidaksiapan masyarakat terhadap bencana gempa bumi (Kedaulatan Rakyat, 10 September 2006).

Daftar Pustaka

  1. Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Yogyakarta Tahun 2005-2025
  2. Kompas, Berdampingan dengan Gempa Bumi, 3 Juni 2006
  3. Kedaulatan Rakyat, Membangun Yogya Lebih Tangguh, Ramah Lingkungan, 10 September 2006
  4. Bappenas (2006) Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bappenas: Jakarta
  5. Bappenas (2007) Laporan Pemantauan dan Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi 27 Mei 2006 di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Bappenas: Jakarta

03. July 2008 by Aditya L. Ramadona
Categories: Refleksi | Tags: , , , |

One Comment

  1. >:-) Gempa Jogja 27 Mei 2006 adalah salah satu Peristiwa yang dak mungkin bisa kulupakan dalam hidup ku, kecuali aku mengalami gegar otak kali ya. Waktu itu bertepatan dengan hari wisuda ku soalnya, di UII Jogja… memori yang bener-bener fantastik.Thanks Friend dah kasih komentar di Blog ku. Trus… untuk soal ‘salam kenal’ nya, ku pikir dak perlu lah… soalnya kito lah pernah kenal sih dulu… waktu kecil… Aditya Lia Ramadona, NEM SD tertinggi di Belinyu Th. 1994 (45, sekian). Tapi paling dak kami pernah menang sekali lawan SD 56 di ajang cerdas cermat yang diselenggarakan PT. Timah berkat pertanyaanrebutan terakhir yang dijawab secara jitu (sebetulnya spekulasi aja sih) oleh kawan kami, MARTIN. Salam dari kawan lamo SD 57 Belinyu 🙂 untuk Rival terberat kami punggawa SD 56 th’94Belinyu… ^_^Wish u allround success Friend…

Leave a Reply

Required fields are marked *