Gempa Tak Membuatnya Pensiun

Perkenalan penulis dengan Rus Fitriyadi bermula ketika mengerjakan skripsi. Ia seorang staff teknisi di Bengkel Jurusan Fisika FMIPA UGM. Selama menyiapkan peralatan eksperimen hingga pelaksanaan penelitian, beliau sangat antusias membantu penulis menyiapkan segala keperluan yang berkaitan dengan hal teknis. Selama itu pula penulis mengagumi dedikasinya dalam melaksanakan setiap tugas yang diemban. Tak jarang pula dari pandangan dan pengalamannya yang luas, penulis mendapat banyak masukan berharga.

Tahun 1972 Pak Fitri, panggilan akrab dari Bapak 3 orang anak ini, menyelesaikan studinya di STM 2 Yogyakarta dan kemudian langsung bekerja sebagai teknisi di Bengkel Jurusan Fisika FMIPA UGM. ”Selama bekerja di Bengkel Jurusan Fisika, tiga kali Saya ke Belanda”, Pak Fitri bercerita tentang masa lalunya. Setelah dua tahun bekerja di Bengkel Fisika, tahun 1974 Ia mendapat kesempatan dalam program pertukaran staff bengkel Indonesia-Belanda. ”Ini merupakan karunia bagi orang seperti Saya hingga bisa tiga kali bolak-balik kesana”, ujarnya menambahkan. Tahun 1976 dan 1977 Pak Fitri kembali memperdalam ilmunya disana dan sebelum pensiun pun Ia sempat kembali ditawari untuk pergi ke Belanda, ”Namun Saya menolak, karena merasa masih terlalu banyak ilmu pengetahun yang telah Saya dapat disana belum berhasil Saya sebarkan disini”.

Rus Fitriyadi, Agustus 2006 ini telah mengakhiri tugasnya sebagai pegawai Bengkel Jurusan Fisika FMIPA setelah sejak tahun 1972 membaktikan segenap kemampuannya disini. Bulan Agustus 2006 ini pula, 3 bulan sejak gempa dahsyat yang mengguncang daerah Jogjakarta dan sekitarnya. Gempa bumi 27 Mei 2006 yang mengakibatkan korban tewas sebanyak 6.234 orang, sementara korban luka berat 33.231 orang dan 12.917 lainnya menderita luka ringan (Departemen Sosial Republik Indonesia, 1 Juni 2006).

Ia tinggal di Kampung Kasongan, kampung dengan penduduk sekitar 1.170 jiwa dan luas kawasan 105 ha. Kasongan adalah sebuah kampung kecil yang terletak di Pedukuhan Kajen, Kelurahan Kasihan, Bantul Yogyakarta. Sentra kerajinan gerabah dan keramik Kasongan, terletak kurang lebih 10 km dari pusat kota Yogyakarta. Hingga saat ini masih terlihat puing-puing berserakan di Kasongan. Kerusakan wilayah desa ini mencapai 80%, baik kerusakan bangunan permukiman, galeri maupun bengkel-bengkel produksi gerabah dan keramik. Kabupaten Bantul sendiri merupakan daerah yang paling parah terkena bencana.

Ketika menengok bangunan rumah Pak Fitri, terlihat hanya mengalami sedikit kerusakan, padahal di kanan-kiri rumah ini, rumah-rumah lain ambruk kehilangan bentuknya. “Saat membangun rumah ini Saya sengaja membangun dengan rangka anti gempa. Kebetulan Saya sempat melihat peta yang dibawa oleh Pak Karyono (Dosen Jurusan Fisika UGM). Disitu terlihat deretan merah yang menurut Pak Karyono, adalah daerah rawan aktivitas tektonik seperti gempa bumi”. Memang saat membangun rumah dengan rangka seperti itu banyak tetangganya yang heran mengapa Ia membangun rumah dengan struktur demikian, karena hingga saat itu penduduk setempat tidak pernah mengetahui atau mengalami gempa.

Walaupun hanya mengalami sedikit kerusakan, namun saat menjumpai Beliau pada awal November 2006, Ia mengatakan bahwa baru beberapa hari ini Ia dan keluarga berani tidur di dalam rumah lagi. “Selama ini Saya dan keluarga tidur di tenda depan rumah”, ujar Pak Fitri. Tenda yang Ia maksudkan ternyata adalah bengkel tempat Ia menyelesaikan pesanan palanggannya. Bengkel ini bukan seperti kebanyakan bengkel yang memperbaiki mobil, motor, atau bengkel yang biasa memperbaiki mesin-mesin lainnya. Bengkel yang dikelola Pak Fitri adalah bengkel yang khusus membuat peralatan laboratorium atau penelitian. Setelah ditelusur lebih jauh, rupanya hal yang membuat Pak Fitri sekeluarga tidur di bengkel walau kerusakan rumahnya tidak seberapa parah bukan karena khawatir akan adanya gempa susulan, namun lebih sebagai bentuk solidaritas terhadap tetangga sekitarnya yang rumahnya hacur sehingga terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat.

Pensiun memang tak membuatnya berhenti berkarya meski dalam kondisi penuh keprihatinan pasca gempa 27 Mei 2006. Hingga saat ini masih banyak peneliti-peneliti yang terbiasa bekerjasama dengannya berdatangan kembali menemui Beliau meminta bantuan untuk membuatkan instrumen penelitian. Kebetulan juga saat berkunjung ke rumahnya, penulis berjumpa dengan seorang Dosen semasa kuliah yang juga sedang memesan sebuah instrumen detektor radiografi. Kesibukan Pak Fitri pun bertambah karena saat ini Ia juga dipercaya sebagai pegurus Masjid di dekat rumahnya, selain itu Ia aktif di LSM Dian Desa yang seringkali memanfaatkan kehliannya untuk membuat alat-alat tepat guna. Tak jarang pula Ia diminta oleh masyarakat sekitar untuk memberikan penjelasan tentang bagaimana membuat bangunan tahan gempa. ”Saya sangat senang bisa membantu, silakan saja datang kesini kalau ada perlu sesuatu”, Ia menawarkan bantuan.

Bercermin dari kisah hidup Pak Fitri dapat Kita lihat bagaimana adaptasi eksternalnya sebagai proses penyesuaian diri terhadap lingkungan dengan membangun rumah tahan gempa karena mengetahui bahwa di wilayahnya bermukim merupakan daerah yang aktif tektonik. Ia juga mengajarkan kepada Kita tentang bagaimana beradaptasi secara internal sebagai proses penyesuaian diri terhadap masyarakat sekitarnya yang terkena dampak gempa.

Memang, gempa tak membuat Pak Fitri pensiun…

03. July 2008 by Aditya L. Ramadona
Categories: Refleksi | Tags: , |

Leave a Reply

Required fields are marked *